DUKA

Bulir-bulir air mata yang sudah lama kutahan akhirnya luruh juga dari kelopak mata bersamaan dengan luruhnya sebagian duka.

Duka itu masih belum sepenuhnya luruh, dia masih nyaman berada di ruang hati, masih nyaman bergelung disana, masih menunggu momen yang tepat dimana dia akan luruh lagi bersamaan dengan air mata.

Entah kapan duka itu akan meluruh, mungkin ketika duka yang lain telah bertambah dan membuat penuh ruang hati, atau ketika sang empunya ruang hati sudah tidak kuat lagi menahan beribu-ribu duka di dalamnya? 

Aku bingung..
Apakah ruang hati tidak sesak dipenuhi oleh duka yang kian malam kian bertambah? Apakah ruang hati tidak berontak saat beribu-ribu duka itu menyiksanya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah sang empunya ruang hati itu pun juga baik-baik saja? Atau mungkin ruang hati dan sang empunya berusaha berontak untuk meluruhkan semua duka itu?

Ketika air mata meluruh keluar dari kelopak mata, apakah itu pertanda bahwasannya ruang hati dan sang empunya sudah tidak kuat lagi menampung semua duka? Atau itu pertanda bahwa duka akan semakin bertambah  dan memenuhi kembali ruang hati?

Entah duka itu akan bertambah atau tidak, yang jelas ketika air mata itu luruh keluar dari kelopak mata, aku merasa bahwa sebagian duka itu juga ikut luruh, bersamaan dengan air mata dan mengosongkan sebagian ruang hati.

Januari 26, 2022

Komentar

Dear myself#1